Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di perkotaan semakin banyak membeli makanan olahan, ketimbang memasak sendiri di rumah. Data BPS menyebutkan bahwa pengeluaran untuk membeli makanan olahan - baik di warung makan, supermarket, maupun restoran - tumbuh dari 29,6% pada tahun 2016 menjadi 34% pada tahun 2018. Hal tersebut didukung oleh data Nielsen pada tahun 2016, dimana 11% penduduk Indonesia makan di luar lebih dari sekali seminggu.

Seiring dengan kenyataan tersebut, semakin banyak pula rumah makan, rumah makan dan warung yang bermunculan untuk memenuhi kebutuhan kuliner masyarakat. Namun, bisnis kuliner bisa dibilang bisnis yang berisiko. Banyak sekali faktor eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi omset restoran. Modal besar, lokasi strategis, dan cita rasa yang enak bukan lagi satu-satunya jaminan untuk bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang tinggi.

Melihat hal tersebut, jaringan restoran Marugame Udon yang berlisensi di bawah PT Sriboga Marugame Indonesia (SMI) fokus pada tata kelola internal dan pengelolaan restoran yang baik. Restoran Jepang dengan konsep udon segar, dapur terbuka, dan tempura ini telah membuka lebih dari 60 gerai di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Sebagai jaringan restoran global, Marugame Udon perlu melakukan berbagai transaksi internasional terutama untuk pembelian bahan makanan dan alat masak.

Mendukung tujuan bisnis strategis Marugame dengan memberikan efisiensi yang lebih tinggi dalam proses manajemen keuangan mereka.

Masalah:

Marugame Udon adalah salah satu waralaba restoran Jepang terbesar di dunia. Berkomitmen untuk membuat semangkuk udon yang sempurna, Marugame Udon cabang Indonesia perlu mengimpor bahan makanan dan peralatan dapur langsung dari Jepang. Karenanya, cabang Indonesia harus secara rutin melakukan pembayaran ke pemasok di Jepang setiap bulan.

Sebelumnya, tim Marugame mengandalkan bank-bank besar ternama untuk melakukan transfer luar negeri dari IDR ke JPY. Namun, biaya yang dikenakan dari setiap transaksi itu mahal, hingga beberapa ratus ribu rupiah untuk setiap transaksi.

Tim Marugame juga harus mendatangi cabang bank setiap kali ingin melakukan pembayaran ke luar negeri, dan menyesuaikan dengan jam operasional bank.

Manajemen Marugame merasa proses ini tidak efisien dan ingin memaksimalkan keuntungan dari operasi mereka. Bapak Akhmad Nurhidayat, Chief Financial Officer SMI menyampaikan, “Ada inefisiensi pengiriman uang menggunakan bank ke luar negeri. Ongkos per transaksinya sangat tinggi, karena kebanyakan harus menggunakan bank korespondensi. Lalu, proses transaksinya juga memakan waktu, karena harus menyesuaikan dengan jam operasional bank korespondensi. "

Pendekatan:

Untuk mengoptimalkan keuntungan sambil terus mendorong pertumbuhan dengan operasi internasional mereka, Bapak Nurhidayat, mencari alternatif non-bank dan memilih Wallex. Wallex adalah alternatif berbasis fintech untuk cara tradisional dalam melakukan pembayaran, menawarkan tarif yang lebih baik daripada Bank, dengan biaya yang lebih murah dan jadwal yang lebih cepat untuk pengiriman dana - melalui akun Wallex Business mereka.

Setelah disiapkan dengan benar dalam ekosistem online Wallex, tim Keuangan Marugame Udon dapat melakukan transfer ke luar negeri secara menyeluruh 24/7 dari kenyamanan kantor mereka (atau rumah!). Mulai dari mendanai pembayaran hingga melakukan transaksi dengan nilai tukar tertentu - semuanya dilakukan secara online.

Ini sangat berguna ketika Indonesia diisolasi karena pandemi COVID19 dan pergi ke Bank bukanlah pilihan.

Hasil:

Perusahaan sekarang dapat menghemat waktu dan uang dengan menggunakan Wallex sebagai alat pembayaran luar negeri pilihan pertama mereka.

Tn. Akmad senang dengan pengalaman tersebut dan berbagi, “Setelah menggunakan Wallex, kami dapat mengurangi 50% hingga 60% dari biaya transfer internasional kami. Ini adalah contoh bagus dari platform keuangan yang membantu bisnis berjalan lebih efisien. "
Menurut Bapak Andy Putra, Country Manager Wallex di Indonesia, hal ini bisa dilakukan karena Wallex menerapkan harga transaksi flat Rp 100.000 per transaksi, dibandingkan penyedia jasa tradisional yang menetapkan tarif progresif. Tidak hanya itu, platform ini menawarkan nilai tukar yang kompetitif untuk 47 mata uang asing (dibandingkan dengan 10-15 yang ditawarkan oleh bank). Platform fintech ini dapat diakses secara online kapan saja, dan dapat menyelesaikan aktivitas transaksi internasional dalam 1 hingga 3 hari.

“Kami menyadari dunia bisnis di era digital ini berputar sangat cepat dan serba online. Oleh karena itu, bisnis kelas internasional seperti Marugame juga menuntut solusi transfer internasional yang aman, praktis, dan dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Kami senang bahwa Marugame telah mempercayakan Wallex untuk memfasilitasi kegiatan pembayaran internasional, ”kata Andy.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Wallex dan mempelajari bagaimana Wallex dapat mendukung bisnis Anda, silakan kunjungi www.wallex.asia atau bicaralah dengan pakar FX kami.

Tentang Margumae Udon:

Marugame Udon menyajikan Udon & Tempura terbaik dari Jepang. Marugame Udon pertama kali dibuka di Indonesia pada 14 Februari 2013 di Mal Taman Anggrek. Semua resep yang digunakan merupakan resep asli dari Marugame Jepang, dimasak menggunakan bahan-bahan berkualitas dan alami yang diproses di masing-masing gerainya dengan teknik khusus dari Jepang dan dikontrol dengan standar jaminan kualitas yang ketat.

Marugame Udon telah memiliki cabang di berbagai kota besar di Indonesia dan saat ini memiliki lebih dari 1100 cabang di seluruh dunia, seperti di Los Angeles, Hawaii, Moskow, Sydney, Seoul, Hong Kong, dan kota-kota besar lainnya di dunia.

Marugame Udon telah mendapatkan sertifikasi halal MUI pada 7 Oktober 2015 dan berkomitmen untuk terus menghadirkan Udon & Tempura terbaik kepada pelanggan setianya.